Tag

, , ,

Kembali Blusukan Girli Sunter Hulu

Selamat berakhir pekan sahabat kebun RyNari. Kembali melemaskan jemari dengan menuliskan blusukan girli Sunter hulu. Blusukan yook.

Kebun pinggir kali Sunter hulu

Salah satu kegiatan kesukaan saat tilik anak di susuhnya, simbok doyan blusukan. Sudah nengok kebun pinggir kali Sunter? Demikian candaan anak2, seolah simbok ngaku empunya kebun pinggiran kali Sunter.

Debit hulu Kali Sunter menggambarkan curah hujan di akhir tahun. Merembeskan berkat buat penggarap lahan. Hamparan sayuran yang nyempil diantara padatnya pemukiman asli. Plus meruahnya pemukiman kompleks pendukung metropolitan Jakarta. Dinamika daerah kantong pemukiman.

Perajin kebun

Pagi itu embun belum sepenuhnya menguap. Beberapa dulurs tani sudah sibuk memanen kangkung cabut. Ada pula yang memperbaiki bedengan. Kagum dengan kearifan mereka menyikapi tingginya muka air tanah. Dibuatlah sistem surjan.

Kedisiplinan menanam aneka jenis tanaman sayuran. Paduan semusim dan tahunan. Aneka umur tanam untuk satu jenis tanaman. Intinya meminimalkan risiko, menjaga kelumintuan panenan. Agar dapur tiap hari bisa ngepul.

Oleh-oleh kebun

Ini oleh-oleh blusukan pagi di kebun. Tumpukan panenan kangkung terikat rapi siap dipasarkan. Buah rambutan merah menggoda dari pekarangan tetangga. Pastinya bukan dari warga komplek perumahan. Eh dari tetangga rumah dapat sajian cabai lebat buahnya. Juga klengkeng pingpong yang rajin berbuah.

Rambutan merona

Blusukan lain waktu khusus melongok buah rambutan yang tumbuh hampir di setiap pekarangan. Kebayang kan suasana pemukiman warga asli dengan luasan pekarangan yang memadai. Merunut ke warung sayuran sayang tidak menemukan buah rambutan yang dijual. Pastinya asyiik menyantap buah rambutan yang dibeli dari panenan warga lokal.

Melihat buah ciplukan di pematang kebun bantaran kali Sunter mengingatkan masa kecil. Diumbar ke sawah pun ladang, mencari buah masak, segera dikupas tanpa dicuci laaph masuk ke mulut. Sensasi manis asam yang terpateri di memori.

Ciplukan, bunga pepaya gantung, daun mangkukan dan pepaya Jepang

Masih bonus minta izin potret pagar daun mangkukan. Teringat ibu membuatnya menjadi bumbu masakan ikan ataupun diurap. Kalau nenek membuatnya untuk cenceman dicampur minyak kelapa untuk perawatan rambut, nah ingat kemasan minyak cenceman.

Bunga kates/pepaya gantung menjuntai lebat. Wuih sadapnya dibuat oseng dengan teri medan atau ditumis dengan kangkung. Nah ini pepaya Jepang tumbuh subur. Belum pernah sih memasaknya, menurut sahabat enak pakai banget.

Woke blusukan simbok tidak pernah lelah bawa bakul wadah panenan. Yaak meski virtual saja berupa ceprat cepret. Melatih persendian kaki yang sudah setia menopang tubuh untuk aneka perjalanan. Selamat berakhir pekan bersama keluarga buat sahabat RyNaRi. Salam sehat selalu.