Tag

,

Lajur Darurat

Lengkung Gedawang berujung gunung

Lajur Darurat di Jalan Tol

Lajur Darurat

Masih serial sementara nglajo Salatiga Semarang. Mengarungi tol Bawen-Semarang pulang pergi, jalanan mulus dengan pemandangan indah berkelak-kelok berkontur perbukitan kecil. Terlihat adanya jalur darurat pada selang jarak tertentu di jalur kiri Bawen-Semarang, sementara tak terdapat di jalur kiri mendaki Semarang-Bawen.

Jalan tol diperlengkapi dengan lajur perhentian darurat. Deretan lajur darurat ini dijumpai di medan yang memiliki kontur turunan tajam sekaligus sangat panjang, seperti jalur kiri Bawen-Semarang yang menurun. Jalur ini menjadi lajur darurat saat mobil yang melaju turun mengalami gangguan semisal gangguan rem. Pengemudi akan dipaksa membelokkan mobil keluar jalur jalan tol, lalu memasuki jalan sedikit mendaki dengan alas berpasir sehingga kendaraan dapat berhenti tanpa perlu hawatir mengalami kecelakaan parah akibat menabrak obyek berat dan bergerak yang tentunya akan mengalami benturan hebat.

Yak jalur menurun pada jalan tol sungguh jalur yang melenakan. Bebas hambatan, gaya tarik gravitasi berpeluang membuat kecepatan kendaraan melebihi kapasitas internalnya dan dapat membahayakan penumpangnya. Keberadaan lajur darurat sungguh bagian dari pemeliharaan pengguna jalan tol.

Lajur Darurat di Keseharian

Bukankah dalam kehidupan keseharian kita juga sering diperhadapkan dengan jalur tol mulus bebas hambatan yang arahnya menurun. Tanpa kewaspadaan tinggi, jalur ini berpotensi mengundang bahaya. Karir mulus tanpa hambatan, semua rancangan berjalan seperti blue print ala kita.  Tetiba kita gamang kenapa kendaraan keseharian kita oleng serasa ditarik gaya gravitasi meluncur hebat.

Kepiawaian sang pengemudi kehidupan kita membelokkan kendaraan kehidupan kita memasuki jalur lambat, tergetar hebat saat menikung ke lajur darurat, gesekan roda dengan pasir menghentak kenyamanan penumpang lalu berhenti sejenak menanti pertolongan.

Aneka wujud lajur darurat ini. Saat karir kerja seolah tanpa halangan eh tetiba ada pengurangan tenaga kerja. Saat jalur kehidupan serasa sudah santai mapan tetiba mendapati kondisi kesehatan yang memerlukan penanganan serius. Bisa jadi hambatan terjadi di kehidupan pribadi, keluarga inti atau keluarga besar dimana kita terikat didalamnya.

Saatnya berbelok memasuki lajur darurat, bergesekan dengan pasir penghenti laju secara paksa dan diam sejenak. ‘Sitting in the silent’….berhenti sejenak merasakan evaluasi kehidupan. Mandeg-kah? Tidak mandeg total alias mogok namun setting ulang orientasi kehidupan, repair kendaraan kehidupan, memerlukan kehadiran Sang Montir Agung. Hingga saatnya keluar dari lajur darurat, kendaraan dapat melaju kembali dengan mantap, hati gembira mencapai tujuan. Ooh terima kasih pembelajaran dari lajur darurat.