Sang Pembelajar

Pada hakekatnya manusia adalah pembelajar, belajar menyesuaikan, belajar bertahan di alam baik alam fisik maupun interaksi komunitasnya. Postingan ini tentang sang pembelajar yang terlahir dua puluh satu tahun yang lalu melalui proses operasi Caesar di RSIA Anugerah Semarang yang beralamat disini, ditangani oleh dokter W. Adiyono, MD Obgyn, PhD. Dikak (adik yang kemudian menjadi kakak) lahir dalam suasana belajar, tidak lama setelah ayahnya menyelesaikan tugas nyantrik dan ibunya sedang nyantrik di padepokan Kebon Raya. Lahir dengan berat 2600g, panjang 48cm dikak berjuang beradaptasi dengan dunia melalui inkubator, selamat datang sang pejuang 5 oktober di tengah keluarga.

Dikak di inkubator

Memulai belajar adaptasi di inkubator

Masa kecilnya sungguh penceria, mudah berinteraksi dengan komunitas yang berbeda.Tidak jarang dipinjam tetangga untuk diajak menemani putra-putrinya main di rumah. Saat berjalan berirama bruk-bruk mirip serdadu baris, kerumunan anak-anak bermainpun bersiaga dengan salam: anaknya datang mengenakan celana kodok bergambar badhut kesayangan, mari sambut teman sepermainan kita.

model celana kodok

Bergaya dengan celana kodok

Dengan kedudukan istimewanya sebagai sitengah, disayang dan menyayangi kakak adiknya. Kalianlah permata kebanggaan keluarga.  Hingga kinipun menjadi si penunjul dengan ketinggian badannya. Sampai usia sepuluhan tahun paling tidak suka makan nasi, jadilah ibunya belajar mengubah paradigma makan tidak harus bersumber nasi, dengan peralatan piring dan sendok. Menu makannya antara roti, kentang (goreng maupun rebus), arem-arem mie dengan cacahan sayur lauk, aneka pasta, pisang rebus maupun krowotan singkong dan ubi. Wah dikak sejak kecil sudah menerapkan penganekaragaman sumber karbohidrat.

Disayang dan menyayang kakak adik

Disayang dan menyayang kakak adik

Des 2000 bersama adik dan adik sepupu di Bidakara

Des 2000 bersama adik dan adik sepupu di Bidakara

Saat dikak magang/KP belajar aplikasi project di bidakara serasa mengenal tempat tersebut, inilah foto kenangan dikak ditempat tersebut. Inilah sejumput kenangan indah dari masa kecil dikak. Trimakasih ya dikak, kita telah dan senantiasa menjadi satu tim pembelajar, belajar tuk mensyukuri dan menghargai setiap tahap perkembangan yang dilewati. belajar pula tuk lepasnya bagai anak panah dari busurnya, belajar dari karya Khalil Gibran, Anak-anakmu.

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Tak berkesudahan kasih setia Tuhan. Tak habis-habisnya rahmatNya. Selalu baru tiap pagi. Besar setiaMu Tuhan. Kami haturkan setiap langkah dikak ke Asta kasihMu, Amin.