Tag

, ,

Berjumpa Dalang Pemburu Jejak Kaki

Memburu Jejak Kaki Pak Harto

Itulah judul buku ke enam di tahun 2014 karya Mas Guskar Suryatmojo. Buku ke enam di tahun yang sama? Yup dengan pembagian sederhana artinya setiap dua bulan terbit satu buku karya. Wow luar biasa, memberkas bulir bernas dari ribuan artikel bukti karya.

Awal membaca wara-wara terbitan buku tersebut, saya mbatin wah Mas Guskar beralih nih ke penulisan dokumenter sejarah dan penasaran dengan gaya wayang slenca beliau meramunya. Semakin deg-degan saat beliau ngudarasajejak kaki Pak Harto nggak jelas jejaknya….”, alamat nih sang penerbit bakalan koprol menjaga pamor.

Memburu Jejak

Memburu Jejak

Setiap titah memiliki jejak, bahkan pendekar sakti ‘tanpa jejak’pun sesekali menjejak dasar, bagaimana merangkai jejak menjadi bermakna bagian dari olah budi. Buku ini salah satu buktinya. Tulisan dibingkai dalam 11 Bab yang bertajukkan Sekar Macapat dari Mijil, Sinom, Maskumambang hingga Kinanthi, rangkuman jejak mulai pembuahan hingga kembali ke Sang Khalik. Masing-masing Bab dari tujuh artikel yang terjalin dengan kompak.

Artikel pembuka “Memburu Jejak Kaki Pak Harto” yang dikerek menjadi judul buku disajikan pada Bab Mijil (hal 1-11) lantunan mikul dhuwur mendhem jero penghormatan kepada sesepuh lantaran berkah keluarga pun Negara. Dari Bab ini pula langkah awal Mas Rebkli sang aktor utama menoreh jejak kaki.

Saripati XY (hal 134-135) nukilan Bab Dhandhanggula, bagian dari kepasrahan benih pengucapan syukur dalam bingkai keilmuan kromosom kaidah Mendell yang takluk pada penyelenggaraan Ilahi. Pangkur yang berlirikkan introspeksi dan refleksi, saya terpikat dengan “Potret Keluarga Minus Satu” (hal 176-178) dikemas dengan sangat cerdas bagaimana menumbuhkan motivasi internal dalam peningkatan kinerja suatu komunitas.

Keelokan lain dari buku ini hanya bisa disesap sendiri. Catatan ini bukan resensi maupun review yang diluar kemampuan diri. Penasaran dengan jejak kaki diri mari kontak kyaine2010@gmail.com.

Berjumpa Dalang Pemburu Jejak Kaki

Buku ini sungguh istimewa bagi saya, karena disampaikan langsung oleh pengarangnya, jadilah menangkup jabat asta sang pemburu jejak kaki. Belum berhasil dalam perjumpaan liburan lebaran lalu memperpanjang perburuan jejak hingga liburan akhir tahun ini di bumi leluhur Karanganyar pereng Ardi Lawu.

Persahabatan berkat ngeblog yang khas, periode Maskumambang melalui kekaguman saya atas jejak karya beliau, menikmati dengan diam dari luar pagar. Kemecer dengan karya Srikandi yang menjadi mijil kontak langsung. Sinom bakal menjadi periode panjang saya nyantrik di padeblogan, sesekala merespon jejak karya beliau melalui postingan semi responsi, bagaikan tutorial jarak jauh dari kyaine Begawan blog. Pustaka karya beliau selalu mengalir memupuk ilmu menulis sang cantrik yang berkali perlu remidiasi.

Perjumpaan yang sungguh berkesan, obrolan saling sambung oleh aneka ikatan masa sekolah, beda generasi tak jadi penghalang, Mas Guskar sahabat dari pasangan 4S (4th sister). Ikatan kekeluargaan blogger menjadi jalinan cerita, sebagai blogger senior yang kenyang asam garam berbagi relasi dengan pemula. Matur nuwun Mas Guskar, perjumpaan yang menginspirasi merenda persaudaraan.

Kopdar Karanganyar tanpa foto ah hoak saja….Foto kami berempatpun mengadopsi gaya sedhakep Dhimas NH18. Loh koq nggak dipajang, biarlah menjadi jejak pengikat jejak berikutnya, mari simak jejak witing paseduluran amarga ngeblog di padeblogan.