Tag

,

Sakuntala Belajar Menghitung Berkat

Nyaris cengklungen Dewi Sakuntala menunggu kendaraan ke arah ibukota. Tubuh ringkihnya mendekap putra terkasih Sarwadamana yang tertidur lelap di bangku reyot berpayungkan pohon kesemek.

Sesaat jiwanya meretih, “duh Dewata betapa berat dharma yang harus hamba sangga…”
“Masa mijil bayi memerah, hamba ditinggalkan oleh Bunda Dewi Menaka kembali ke Kahyangan dalam tawa keberhasilan menunaikan dharma dari Dewa Indra menggoda tapa sang Wismamitra” “Pun ayah hamba ramanda Wismamitra, tak pernah hamba rasakan kehangatan dekapannya. Beliau memilih meratapi kegagalan tapa brata menuju keagungan. Lantas, produk keberhasilan atau kegagalankah hamba ini?”
“Masa asmarandana nan singkat, hati terpikat kepada Prabu Duswanta. Maniskah dandanggula ini bila belahan hati lebih memberati panggilan negeri? Adakah hati kakanda Duswanta menyimpan dusta? Semakin sampyuh gambuh saat buah hati Sarwadamana menanya ayah dimana? Berlebihankah asa dan damba hamba agar putra hamba tidak mengalami masa kecil seperti bundanya, putri yang terbuang?”

“Sakuntala anakku, engkau adalah wakil para bunda nan legawa. Mari belajar menghitung berkat bagimu.”
“Saat banyak pesohor berburu melahirkan dengan metode sensasi terapi air, engkau lahir di tepian sungai Malini”
“Saat rama bundamu meniadakanmu, betapa ajaib burung Sakuni merawatmu dengan penuh kasih. Sakuni yang rahmani itulah asal namamu Sakuntala. Engkau adalah jelmaan putri yang pemberani, menjadi rahmat bagi sesama.”
“Kala banyak insan tidak perduli dengan kaum kecil, Bagawan Kanwa mengangkat, mengasuh dan memberkatimu layaknya putri utama. Beliau membekalimu dengan sesanti  piwelas
“Pumpunkan niatmu menyatukan Sarwadamana dengan Prabu Duswanta ayahandanya. Siapkan hatimu bila kekecewaan dan pengingkaran menyapamu. Hingga saatnya kembang keben memekar penuh. Ratapmu bagaikan puspa puja, menjemput restu Dewata mengawalmu”

Ng….Bunda, koq lama amat ya kendaraan ke Ibu kota tak segera lewat…..”
Deru halus Kyai Garuda Seta menghampiri mereka berdua. “Mangga, Nakajeng Dewi Sakuntala berdua, saya hantarkan ke Ibukota”
“Pakde yang tadi bertanya alamat ya, koq cepat sekali ngobrolnya bersama Eyang Kanwa” “Ayoo bunda kita ikut tumpangan prahoto Pakde saja, lama banget nunggu kendaraan padahal harga BBM sudah turun”
“Mari cah bagus yang pandai, Pakdhe bantu angkat ranselmu”

Bagaimana perjalanan menuju cita cinta maupun sambutan Prabu Duswanta, mari ikuti kisahnya di padeblogan.

Iklan