Tag

, , , , ,

Dawis Anggrek Tour d’Semarang

Sahabat kebun RyNaRi, jumpa lagi dengan acara Dawis Anggrek. Kali ini Tour d’Semarang. [Tur sebelumnya di lereng Merbabu hingga Cerita Kita, simbok absen.] Seperti apa nih seseruannya.

Dawis Anggrek tour d’Semarang

Mengisi waktu liburan tahun ajaran mengingat kebanyakan warga dawis pendidik putra bangsa, kami dolan pada hari Sabtu 25 Juni 2022. Berangkat pada pukul 13 an, lah koq siang sekali? Alasannya ada di bawah, yook pantengin boleh sambil ngemil.

Perjalanan mengikuti rute toll Salatiga-Ungaran, mendapat info perbaikan jalan di ruas non toll. Lontong sayur menjadi thotholan awal. Asyik kan dolan dan nothol bersama itu suatu kesatuan, biar cadangan tenaga memadai.

Vihara Buddhagaya Watu Gong

Jujugan awal adalah Vihara Buddhagaya Watu Gong, berada di jalur utama Semarang Solo non toll. Apakah ini kunjungan pertama simbok? Enggak lah, meski kunjungan berulang selalu menghadirkan sukacita. Pergi dengan teman dan waktu yang berbeda. Kunjungan awal dapat dinikmati di sini.

Sedikit mendaki undakan ya melewati prasasti watu gong, batu dengan rupa gong gamelan sebagai penanda penamaan daerah. Vihara ini memiliki 2 bangunan utama yaitu Dharmasala dan pagoda Avalokitesvara yang bertingkat tujuh ini, yang arsitekturanya mengingatkan pada Temple of Heaven di pesona Negeri Tirai Bambu.

Dawis Anggrek di depan Dharmasala dan Pagoda Avalokitesvara

Lumayan banyak pengunjung di akhir pekan ini. Antre yook tuk berpose tepat di depan pagoda menjulang yang sedang dipugar. Kunjungan sebelumnya simbok sempat menikmati masuk bangunan pagoda, diantaranya menatap patung Dewi Kwan Im ukuran nan besar. Berada di sisi kanan pagoda Avalokitesvara, kami menjumpai Buddha tidur.

Dawis Anggrek di Vihara Buddagaya Watu Gong

Bukan simbok kalau tidak menowel peserta dolan menoleh ke tanaman utamanya tanaman yang disakralkan bagi peserta sembahyang di Vihara Buddhagaya. Pertama, tampilan perkasa meneduhkan dari pohon Bodhi. Sacred fig, dikenal pula sebagai pohon Bo, dengan nama ilmiah Ficus religiosa.

Berada di dekat Buddha tidur dijumpai tanaman Sala atau Canon ball tree. Selalu kagum dengan ukuran dan warna bunganya yang memikat. Pun buahnya yang seukuran bola besi tolak peluru. Pertama kali simbok melihatnya di Singapore Botanical Garden. Tanaman lain adalah pohon Nagasari, mengingatkan pada kiprah Anoman yang ngobrak-abrik taman Ngalengka, hehe…

Tanaman sakral…. tanaman Bodhi, Canon Ball Tree dan Nagasari

Yook saatnya capcus ke wisata berikutnya…..

Sam Poo Kong

Luar biasa ya pilihan dolan warga dawis Anggrek, kelar dari Vihara kini menikmati Klenteng Sam Poo Kong. Cagar budaya ini merupakan salah satu ikon Semarang dengan keistimewaan kelenteng tertua di Semarang dan pating Cheng Ho tertinggi di dunia.

Bendahara dolan antri untuk tiket terusan dan beberapa paket istimewa karena beberapa peserta menjajal kostum. Bagi pengunjung yang tidak bertujuan khusus sembahyang dan belum kepingin menelisik keistimewaan setiap kelenteng tersedia tiket masuk regular. Tetap koq dapat menikmati lansekap utuh serta pepotoan di areal ini.

Kawasan ini lumayan panas menyengat. Nah inilah alasan kami berangkat siang dari rumah. Kami menjelajah Sam poo Kong mulai sekitar pk 15an sudak lebih teduh karena matahari sudah condong ke Barat.

Mari awali dengan kelenteng Dewa Bumi. Insan bersyukur atas rahmat bumi dan memohon berkat pemeliharaan melalui rezeki bumi. Penanda awam, di depan kelenteng terdapat jajaran 8 dewa. Saat peserta dolan menyelipkan badan untuk pose di antaranya, simbok nyeletuk…. Persidangan kahyangan viral dengan menyusupnya dewi dawis Anggrek.

Dawis Angrek di Sam Poo Kong

Selanjutnya yook jangan dilewatkan kelenteng utama dengan ukuran paling besar. Penanda awam adalah ribuan lampion di dalamnya. Tempat Pemujaan Sam Poo Kong / Sam Poo Tay Djien. Kemegahan dan keanggunan bangunan. Pengalaman sangat berharga, Simbok bersama mbakyu Anik menyisir ke belakang kelenteng. Melangkah tenang agar tidak mengganggu umat yang bersembahyang.

Tujuan utama mengagumi diorama di dinding belakang yang menggambarkan perjalanan laksamana Cheng Ho yang disajikan dengan Bahasa Inggris pun Mandarin. Juga pintu masuk ke gua batu. Muasal penamaan Gedung Batu. Oh ya mengitar pandang, buat pengunjung tetap dapat menikmati diorama ini tanpa harus mengusik ruang ibadah dengan cara menyisir dari samping.

Hayook maju terus. Para peserta dolan pada pepotoan di spot kapal. Pastinya simbok lanjut mengulik kelenteng Kyai Juru Mudi, kelenteng Kyai Jangkar, Kyai Nyai Tumpeng pun Cundrik Bumi. Melongok sendirian mengingat ketertarikan setiap peserta dolan berbeda.

Oh ya teringat sebaran foto memikat di aneka sumber ada spot foto Fushimi inari adopsi kuil Sinto Jepang, kuil pemujaan bumi. Mengajak para pedolan dawis Anggrek mencobanya dengan berpose bersama.

Nah inilah tampilan beberapa pedolan dawis anggrek…. Ada permaisuri, putri Champa, artis drama Korea dengan kostum hanbok tentunya Bersama para putri malu sang dayang-dayang. Nah kan dolan ke sini berkali-kalipun tidak akan bosan. Ini tulisan simbok kunjungan yang ke3 di blog ini tentang Sam Poo Kong.

Putri Dawis Anggrek di depan kelenteng Dewa Bumi kompleks Sam Poo Kong

Yook geser…..

Lawang Sewu

Cagar budaya Lawang Sewu juga ikonik buat pengunjung di kota Semarang. Minimal ini juga kunjungan simbok yang ke3. Melongok museum kereta api, jajaran lawang eh pintu serasa lawang sewu, menikmati gorong-gorong drainase bawah tanah hingga tampilan jendela kaca patri cantik di Gedung Menara utama.

Lah kunjungan dengan dawis Anggrek tentunya dengan fokus berbeda.Alamak padatnya pengunjung terasa sejak di pintu masuk. Kini system pendaftaran di loket makin tertata. Setiap pengunjung mendapat stroke pembayaran ber QR. Pengunjung masuk dengan antrian, pemindaian QR dengan 3 jalur. Perlu sosialisasi dan pembiasaan untuk setiap komponen.

Dawis Anggrek di Lawang Sewu

Bagian mana nih yang mau dikunjungi? Baiklah langsung njujug di lantai 2 gedung B alias spot jajaran pintu yang fenomenal. Menatap bangunan dengan Menara utama dari lantai 2 spot pepotoan. Pancaran sinar senja di jendela kaca patri terlihat apik. Oh ya mari kawan poto di barisan lorong. Tidak tahu teknik potret tepatnya. Selalu kagum dengan foto berbingkai pintu di dalam pintu berlatar pintu yang lebih jauh hehe….

Dawis Angrek di Lawang Sewu

Tidak ingin melongok bangunan lain, beberapa peserta ngaso di bawah pohon manga di tengah Kawasan. Ada tampilan berbeda deretan stall makanan juga kursi pengunjung menikmati jajan disbanding kunjungan sebelumnya. Mengajak beberapa peserta yang berminat melongok museum kereta api, siapa tahu akan datang kembali bersama buah hati.

Makan malam Bersama

Dolan Bersama tetap harus menjaga stamina….. yook makan malam bersama. Juga saatnya sholat Mahgrib, dolan dengan sejahtera sehat.

Makan malam bersama charge tenaga

Kota Lama

Cagar Budaya Kota Lama alias Semarang Old City Heritage alias Little Netherland selalu memikat pengunjung. Hehe kami dawis Anggrek menjadi bagian dari membludagnya pengunjung di akhir pekan saat liburan sekolah.

Penuhnya tempat parkir juga padatnya jalanan di Kawasan tak menyurutkan semangat kami. Jepreet berlatar Gedung MARBA, eeaa senyum berlatar Gedung Spiegel putih yang kini menjadi bistro kereen, aloo bergaya di jembatan Taman Srigunting berlatar kubah gereja Blendhuk. Yes minimal 3 spot ikonik terabadikan.

Dawis Anggrek di Kota Lama

Tawaran menjelajah saling menyebar tuk memuaskan rasa ketertarikan dibarengi rasa gamang tersebar di keramaian. Yook mau lihat spot lain rumah akar/tembok. Meninggalkan Jl Letjen Suprapto jalur utama, masuk ke jalan Roda. Suasana sangat berbeda disbanding siang hari. Tampilan akar yang mencengkeram bangunan terasa lebih magis. Lanjut ke jl Kepodang, jajaran tempat ngopi, belok jl Suari Kembali nembus depan gereja Blenduk.

Dawis Anggrek di Kota Lama
Malam hari di rumah akar….. (Fotografer Wulan)

Mau incip gelato? Yuup tawaran disambut, kami ber 7 kembali menyusuri jalur utama ikutan antrean di Gelato Matteo sebelahan tempat ngopi Tekodeko. Cup regular berisikan 2 scop gelato dibanderol 32K. Kami eyang oma simbah mama tante Dawis Anggrek berbaur dengan pencicip gelato.

Mbakembak buibu, capekkah? Senaaang….. loh jawaban dan pertanyaan nggak nyambung. Saatnya pulang, sambal berencana dolan berikutnya. Nah pukul 21.30 kami sampai di rumah, alias 8,5 jam dolan bersama. Kini Kembali menjalankan peran keseharian dengan lebih segar.

Dawis Angrek persiapan estafet kepemimpinan kami akan tut wuri handayani

Tunggu dolan kami dawis Anggrek berikutnya…..