Tag

, ,

Kisah Sepotong Sore Merajut Kebersamaan

Kisah sepotong sore

Ini kisah sepotong sore. Kebiasaan Simbok, bercerita remeh temeh. Apa sih uniknya sepotong sore, biasa saja kali. Tidak mengapa, setiap cuilan waktu adalah anugerah. Jadi bagian merajut kebersamaan.

Simbok dan Mas Tengah menikmati mencangkul dari rumah. Karena ada keperluan, mbak Tengah harus macul di kantor. Nah sore ini kami menjemputnya.

Sasaran amatan awal adalah kesiapan dan persiapan lajur LRT. Masih sama sih dengan beberapa bulan lalu, jalur ke Selatan nyampai di kawasan Cibubur. Melihat gagahnya rangkaian kereta nangkring di lintasan layang menghadirkan rasa. Wuih Kota kami juga seperti kota tetangga siap menerima LRT sebagai bagian transportasi bersama.

Menempuh jalur melawan arus, sore hari menuju ke kota, terasa lumayan sepi dan sangat lancar. Melihat simboknya rada bingung dengan penataan pembatas di lajur paling kanan jalur yang kami lalui. Mas Tengah singkat berkata persiapan untuk contraflow.

Mbak Tengah berladang di kawasan JakSel. Masih terasa pepohonan di jalur utamanya. Mengenali kebiasaan, dibebaskannya kalau simbok hendak blusukan ke areal taman perkantoran.

Wkwk…awal mata melotot dengan pohon durian lumayan besar di areal parkir. Bakalan ada pesta durian nih saat buahnya matang. Kompleks ladang dengan model ala ngantong, alias dari tampak muka sempit. Memanjang dengan bagian dalam lumayan luas.

Sirih gading menguning

Fasad muka gedung menjulang pun bertopeng kaca dilunakkan dengan penataan taman yang apik. Hamparan sirih gading kuning menutupi pojokan segitiga dan dibiarkan merambat pangkal pohon. Sederhana namun utuh apik.

Taman pelepas lelah jenuh

Bagian lain tema pancuran dengan aneka variasi bromeliad alias nanas-nanasan. Menyerap panas pun menyaring udara. Mengalirkan hawa segar ke dalam ruangan sekitarnya.

Tanaman pagar pembangkit semangat

Letih mencangkul, mari tatap tatanan taman. Paduan tanaman pucuk merah dipangkas aneka bentuk. Hijau meneduhkan di sela kuning pemancar semangat. Ooh kebayang kompetensi tukang taman, bukan hanya keindahan namun sinergi rasa yang dibangkitkan.

Taman menyamarkan pipa berlalang

Benar-benar terpikat di kawasan pojok belakang. Aneka pipa melalang. Entah pengelolaan limbah ataupun penataan drainase, tersebab tiada yang dapat ditanya. Ditata menjadi taman model untuk piknik makan siang bersama atau pertemuan non formal. Ruang terbuka hijau dengan aneka peran.

Anggrek bulan di taman kota Jakarta….

Mbak Tengah menyusul, bertutur sebelum pandemi kami sering makan siang bekal kami masing-masing di taman ini. Kursi beton berkanopi tanaman merambat dengan bunga warna-warni.

Vas anggrek bulan di meja….

Menarik terdapat rambatan berbalut ijuk untuk menambatkan anggrek bulan. Mendongak ke atas, lumayan rimbun oleh dedahanan. Menahan sebagian sinar matahari hingga anggrek bulan (Phalaenopsis) mampu tumbuh. Saat itu bunganya mekar warna/i memenuhi tangkai yang menjuntai.

Laiknya perladangan tentunya ada warung penjaja makanan minuman. Ooh menjadi bagian santai, nyemil para peladang dengan tatanan unik. Kekinian banget ada sudut fotoable sesuai kebutuhan konsumen untuk feed medsos.

Lah simbok cukup pesan minuman hangat plus cemilan untuk teman perjalanan pulang. Ini jam perjalanan yang hampir normal lumayan padat. Pada waktu tertentu macet menjadi moment yang tak terhindarkan. Ikut merasakan barisan contraflow. Bonus cuaca cerah disuguhi gunung membiru di kejauhan.

Contraflow bonus gunung biru…..

Kisah sepotong sore, yang sebenarnya biasa saja. Menjadi luar biasa bagi simbok karena tidak setiap saat mengalaminya. Menikmati kebersamaan senyampang tilik anak di susuhnya masing-masing. Sebelum kembali ke susuh asal di pinggiran Rawa Pening. Selamat merajut kebersamaan bersama keluarga terkasih.