Tag

, , , ,

Riangnya ‘Berkebun’ di Kompasiana

Riang berkebun

Bagi emak kebun abal-abal, berkebun sungguh menggembirakan. Berkebun di ladang wordpress dengan alamat petak rynari yang berceloteh tentang kebun keseharian. Petak wijikinanthi yang dihususkan buat ‘bertanam’ tulisan berbahasa Jawa.

Kemudian berkenalan juga dengan ladang Kompasiana. Platform yang mengusung Beyond Blogging, lebih dari sekedar ngeblog. Mencoba ikut berkebun diladangnya. Kini berbagi cerita riangnya ‘berkebun’ di Kompasiana.

Mencangkul ide menyemai kreativitas

Kalau menjajal berkebun di beberapa ladang, sungguh bukan karena kelebihan energi menulis. Juga bukan karena untuk tujuan membandingkan. Setiap ladang memiliki keindahannya yang khas.

Ibarat berkebun, menulis adalah proses belajar tiada akhir. Bermula dari menggali ide. Ada kalanya ide menulis serasa terhampar dihadapan mata. Suatu kali, ide harus digali atau dicangkul diantara kerasnya ladang.

Memiliki ide bukan berarti menulis langsung jadi. Diperlukan kreativitas mengolah ide. Bagaimana menyajikannya dari sudut pandang tertentu hingga bermakna.

Ide dan kreativitas bukan hal yang langka namun juga tidak bersifat instan. Inilah penggambarannya ….”mencangkul ide, menyemaikan kreativitas”….. ungkapan yang khas ala kebun. Laiknya pekebun yang tidak selalu berhasil, menulis juga bersiap untuk kecewa dengan hasil tulisan.

Ladang Kompasiana

Mari sekilas mengenal ladang Kompasiana. Ladang yang dikelola dengan handal dengan pengalaman 11 tahun Kompasiana. Kompasiana merupakan Media Warga (Citizen Media). Penggunanya memiliki aneka latar belakang  dan tujuan.

Semula mengusung semangat berbagi dan saling terhubung (sharing and connecting). Mengikuti transformasi semangat baru berkembang dengan slogan beyond blogging. Bagi saya emak kebun, intinya sarana belajar menulis.

Mata kebun saya, melihat ladang Kompasiana bagaikan hamparan ladang luas yang mewadahi aneka kegiatan pekebun. Mulai dari pekebun profesional hingga pembelajar pemula.

Hamparan yang dibuat komplek petakan terstruktur yang disebut dengan kategori atau rubrik. Ada ekonomi, gaya hidup, politik, wisata dll. Setiap pengguna bebas memilih rubrik sesuai dengan kebutuhannya.

Riangnya ‘Berkebun’ di Kompasiana

Awalnya saya hanya suka membaca menikmati aneka artikel di Kompasiana. Terdorong untuk komen menimpali tulisan sahabat juga narablog yang sering blogwalking di kebun rynari. Ooh untuk interaksi diperlukan syarat terdaftar.

Mendaftar untuk terkoneksi dengan tulisan para sahabat. Lama-lama koq ya tertarik untuk menjajal menulis artikel. Bagaimana menyesuaikan gaya kebun dengan ladang kompasiana? Ternyata perbedaan gaya menulis tetap diakomodasi.

Lah gaya kebunan saya akan nyaman menyelusup ke rubrik gaya hidup khususnya hobi, atau sesekali ke humaniora saat mengulas pembelajaran dari kebun. Sesekali blusukan kebun menelisik ke rubrik wisata ataupun kuliner. Bahkan gaya limbukan ala kebun juga masih bisa diterima pembaca.

Bagi saya, kompasiana bagaikan ladang percobaan tanpa batas. Setiap penulis diizinkan menggunakan ladang untuk mencangkul ide, menyemai kreativitas. Menanamkan bibit tulisan dan mendapat respon dari sesama pembelajar.

Ada kalanya bibit tulisan berkembang runtut. Sajian tulisan mengikuti alur dan mudah dipahami pembaca. Lain kali semaian tulisan tidak berkembang sesuai harapan.

Uniknya ada kepedulian pemeliharaan. Semisal admin kompasiana menyematkan kriteria pilihan atau sematan artikel utama. Memang bukan tujuan utama dalam penulisan. Bukankah penulisan perlu proses?

Nah, kriteria sematan ini bisa dimaknai sebagai pemeliharaan layaknya pemupukan ataupun pengairan yang menyegarkan semangat. Atau juga menjadi bagian dari proses seleksi untuk perbaikan pertumbuhan.

Adakah gulma atau hama penyakit yang menggerogoti dan mengganggu berkebun? Pastinya adalah, semisal infeksi kemalasan, sesekali gangguan sulit login. Namun semangat persahabatan dan saling menyemangati antar pembelajar dan kesigapan tim admin mengatasi kendala teknis dapat meredamnya.

Proses bertumbuh bersama. Inilah yang membuat saya senang dan riang ‘berkebun’ di Kompasiana. Ada pemeliharaan proses tumbuh. Bukan semata pada hasil.

Buah ‘Berkebun’ di Kompasiana

Salah satu buah ‘Berkebun’ di Kompasiana adalah mendorong dan memfasilitasi para teruna kebun untuk ikut bersama belajar menulis. Buku Mozaik Kata Teruna Kebun (2018) merupakan buah perdana berkebun di Kompasiana. Berisi sebagian karya teruna kebun yang dipublikasi di Kompasiana.

Buku: Mozaik Kata Teruna Kebun (2018)

Berkebun adalah keberlanjutan, melibatkan antar angkatan. Begitupun menyemaikan bibit peduli menulis. Bermula dari 2 tahun lalu ‘mengajak’ sekitar 200an teruna kebun yang terdiri dari aneka angkatan. Kini tak kurang 500an peserta unyu-unyu ikut belajar di ladang Kompasiana. Tumbuh dan berkembang bersama adalah keriangan dalam belajar

Sahabat kebun rynari, inilah secuil kisah riangnya berkebun di Kompasiana. Mangga kalau hendak menjajal. Menambah variasi ladang garapan selain blog yang kini sudah dikelola. Bersama menyemai bibit cinta edukasi literasi melalui menulis dan membaca.

Selamat berkebun.