Tag

, , , , ,

Dawis Anggrek Nyepur Bareng

Nyepur Kalijaga

Nyepur…Kalijaga

Sahabat kebun Rynari, apa khabar? Duh mohon maaf kalau ada sahabat mampir dan kebun terasa suwung tanpa postingan baru. Lah emak kebun lagi jarang update.

Nah memacu energi menulis, paling enak cerita dolan. Mohon maaf para bunda anggota Dawis Anggrek yang bertanya koq cerita dolan belum didokumentasikan. Ini dolan lama di akhir Juni 2019. Bahkan kami sudah dolan bareng lagi. Ya wis, lebih baik terlambat daripada tidak ada tulisan dawis dolan.

Kali ini dawis melakukan dolan dengan cara yang tak biasa. Mari nyepur bareng. Moda transportasipun bervariasi.

Minggu pagi pk 06.10 kami sudah siap. Rombongan berjumlah 30 memenuhi 2 kendaraan carteran yang akan mengantar kami ke stasiun Tawang. Loh Dawis bukankah dasa atau 10 keluarga? Yup ini edisi dolan bareng, ada ibu, bapak, anak, cucu, eyang.

Pk 08.30 kami sudah sampai di stasiun Tawang. Beberapa bunda muda mulai memperkenalkan situasi stasiun kepada buah hatinya. Menunggu tour leader yang akan memandu dolan kami. Kami menggunakan jasa agen wisata mulai dari pemesanan tiket kereta hingga acara dolan.

Sekedar pengingat, kalau kita bermimpi maka akan terwujud. Beberapa kali singgah di stasiun Kedung Jati yang cantik, selalu bersamaan dengan masuk dan singgahnya KA Kalijaga jurusan Solo Semarang pp. Dari Solo pagi dini hari, balik dari Semarang pk 09an. Hanya setangkep saja jadwal pulang pergi. Kepengin sesekali menjajal kereta Kalijaga Semarang Solo.

Nah sekarang kesampaian, ramai-ramai pula dengan teman-teman Dawis. Kami pergi saat liburan sekolah sehingga sangat ramai. Trend wisata sepur ke Purwodadi lagi marak. Peserta dibedakan dengan warna pita kalung name tag agar mudah.

Kami mendapatkan tempat duduk di gerbong Eko 3, dijadwalkan berangkat pada 09.10 dan tiba di Gundih pk 10.53. Tuuutt…jes…kereta berangkat tepat waktu. Duh senangnya mendapati para anak cucu bersemangat menikmati berkereta alias nyepur bareng.

tangki....terlihat dari kereta

tangki….terlihat dari kereta

Rasanya sayang banget kalau moment ini tidak dimaksimalkan. Seandainya pihak tour atai malah KAI merancang tour singkat ini. Bisa dimulai dengan cagar budaya Stasiun Semarang. Pemandangan apik dan tangki-tangki saat sepur keluar dari stasiun.

Stasiun Brumbung dan Telawa

Belum lagi beberapa stasiun kecil yang masih aktif dengan bangunan unik. Kami melewati stasiun Brumbung, stasiun Kedungjati lalu stasiun Telawa. Bersyukur beberapa kali singgah di stasiun Kedungjati yang kembaran dengan stasiun Ambarawa.

Saya rela melewati beberapa gerbong hingga gerbong resto yang berhadapan tepat dengan emplasemen stasiun Telawa yang cantik. Serba tepat waktu, pk 10.53 kami berduyun-duyun turun di stasiun Gundih. Kereta Kalijaga akan meneruskan perjalanan ke stasiun Purwasari Solo.

Stasiun Gundih

Terpana dengan arsitektura stasiun Gundih dengan emplasemen luas, bangunan kuna. Yook sesi potret bareng dimulai, pihak tour juga melakukan dokumentasi, tentunya untk keperluan promosi bisnis.

Piknik asyik bila keperluan perut tercukupi. Snack sudah kami terima saat di stasiun Tawang. Kini dengan bus mini kami serombongan akan menikmati nasi pecel Gambringan. Model wisata yang menggandeng potensi lokal.

Memasuki wilayah yang ditata apik ramah kamera, kami digiring ke penjual pecel. Makan dengan model lesehan di emperan rumah warga. Mata jelalatan saya menghitung sekitar 150an peserta dari aneka rombongan. Berapa rupiah yang dapat dinikmati oleh warga setempat.

Santap pecel lesehan

Bener hanya makan pecel? Mana tahan kalau dijajakan pula buah tangan khas Gundih. Kecap cap udang yang khas, aneka ukuran minyak kayu putih produk Perhutani Gundih plus aneka jajanan lain. Tempat makan yang terintegrasi dengan tempat sembahyang, saatnya sholat Dluhur di masjid setempat.

Kayu putih Perhutani Gundih

Mari lanjut ke Kedungombo. Bendung buatan yang dirancang untuk aneka keperluan, dari irigasi, perikanan, pembangkit listrik hingga pengendali banjir daerah hilir. Melewati arena piknik lama yang kini tidak digunakan karena alasan keselamatan pengunjung.

Wana wisata Kedung Cinta

Pk 13.04. Inilah kawasan wana wisata kedung cinta. Keteduhan wana alias hutan yang memayungi tepian waduk. Hari gini semua tempat wisata dirancang ramah kamera. Jadilah wahana selfie maupun fotogrup dengan ikon khas. Saya malah suka nyelempit ke tepian waduk yang agak jarang pengunjung. Bebas menatap luasnya waduk Kedungombo.

Waduk Kedungombo dari Kedungcinta

Lanjut ya para bunda dan anak-anak…. Kami menuju ke areal dermaga dengan pasar ikannya. Ramai dengan kios penjaja ikan untuk oleh-oleh. Atau hendak santap siang di rumah makan apung di Waduk. Silakan memilih anekasajian di rumah makan.

Ikan bakar Kedungombo

Pastinya kami segera menuju kios penjual ikan yang dijapit bambu untuk diproses lajut bakar. Pesan dengan catatan dan dapat ditinggal jalan-jalan di kawasan tepian waduk.

Menawari ibu-ibu, beberapa menginginkan naik perahu tempel mengitari waduk. Mari…..dibantu pemandu tur, kami menyewa perahu berbarengan dengan rombongan lain agar kapasitas segera kuota langsung kayuh eh bersauh.

Wisata perahu Kedungombo

Lumayan sulit untuk mencapai perut perahu, masukan kecil buat pengelola wisata untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan punikmat wisata ini. Acung jempol, Eyang saah satu peserta Dawis kami di usia lebih dari ¾ abad masih semangat naik perahu.

Meninggalkan tepian, menikmati luasnya waduk. Beberapa pintu air terlihat untuk menata ketinggian muka air. Sekaligus mengontrol luapan ke daerah hilir. Berkesempatan menikmati kumpulan burung belekok yang tinggal di bangunan apung di tengah waduk.

Burung belekok Kedungombo

Pemandu wisata menyerukan, kita akan mampir di pulau. Pulau? Yup tentunya bukan secara harafiah. Bagian bukit yang puncaknya menyembul, menjadi tempat tumpukan bahan galian saat pembangunan waduk.

Karena para teman Dawis yang berperahu tidak turun, saya tetap turu bersamaan dengan beberapa anak cucu. Juga rombongan lain yang adalah pensiunan suatu instansi di Semarang. Alamak bagusnya… Serasa padang rumput mini.

Pulau di kedungamba

‘Pulau’ dengan cerita tersendiri. Bermula dari banyaknya bangkai ikan aneka ukuran yang terdampar di tepian. Menurut tukang perahu, dampak dari letusan Merapi beberapa waktu lalu mengirim belerang lumayan banyak dan terlarut di Waduk Kedungombo sebagai penyebab. Apiknya padang rumput mengering, menitip pesan hati-hati ya jangan main api. Juga tampilan lapisan batuan endapan yang memberikan corak menarik.

Pk 14.40. Yook saatnya kembali ke daratan. Masing-masing menuju tempat pemesanan ikan yang sudah dipilihnya. Ooh terjadi beberapa kericuhan antara pesanan dan pengambil. Penanda perlunya pendampingan oleh dinas terkait untuk pengelolaan pemesanan, semisal pencatatan pun penomoran urutan.

Bergegas kami kembali ke bis mini, jadwal berikutnya adalah ke Candi Joglo. Mampir sejenak di tempat santap pecel, pemandu wisata membagikan makan siang dan minuman.

Sendratari di Sanggar Candi Joglo

Loh ada Candi? Aha…bukanlah yang jelas ada bangunan joglo Toroh sebagai sanggar seni budaya. Mengusung tema ala Bali. Setiap peserta mendapat pinjaman aksesori ala Bali untuk keperluan foto yang sudah termasuk biaya paket.

Bukan di Bali loh…ini Purwodadi

Kami menikmati sendratari yang dibawakan oleh penari gabungan diantaranya dari ISI Solo. Jam pertunjukan mengikuti jadwal. Suasana matahari tenggelam menambah eksotiknya tarian yang membaur ke penonton. Mangga disempatkan menikmati semacam museum budaya di rumah Joglo pun benda kepurbakalaan di bagian belakang.

Sanggar Joglo dan fosil grobogan

Usai sudah rangkaian piknik. Pk 17.30 kami diantar oleh bus mini langsung kembali ke Salatiga. Paket tur ini meliputi tiket KA Semarang-Purwodadi pp, pecel, retribusi ke waduk, tiket sendratari, makan siang, snack dan transport lokal. Karena kami tidak mendapat tiket balik KA Purwodadi, digantikan dengan bus mini langsung ke Salatiga.

Inilah catatan dolan bareng warga Dawis Anggrek dengan tema utama nyepur bareng. Sehat dan sukacita selalu ya para anggota Dawis, dolan lagi di kesempatan mendatang.