Tag

, , , ,

Melongok Nol Kilometer Yogyakarta

Nol Kilometer Yogyakarta

Beberapa postingan terakhir ini menggunakan judul melongok. Yaak melongok berdasarkan KBBI adalah melihat dengan mengeluarkan kepala (melalui jendela dan sebagainya). Mengandung makna melihat sekilas tanpa mendekat dengan amatan seksama. Juga dalam waktu yang sungguh sekilas.

Ini juga yang saya lakukan saat melongok nol kilometer Yogyakarta. Wira-wiri Salatiga-Yogyakarta saat sowan Ibu yang lenggah di adik 3B. Biasanya mengambil hari Sabtu balik Minggu. Nah ini juga jadwal yang sama, Minggu pagi bersama keluarga adik 4S beribadah di GKI Ngupasan. Kelar ibadah lanjut sarapan di kantin, masih memiliki lumayan waktu luang sebelum ke agen daytrans.

Keponakan menawarkan menemani jalan ke nol kilometer. Awalnya saya menolak biar tidak terburu-buru dan toh lumayan sering ke kawasan ini. Lewat jalan tembus bisa lewat cagar budaya GPIB loh budhe…. Lah ini godaan besar, begitu disebut cagar budaya yang belum sempat disambangi langsung terbirit-birit.

Rute GKI Ngupasan – Nol KM Yogya

Yook ini rute melongok kami. Pk 08.37 menyusuri Jl Reksobayan, di pertigaan jl Gadean, menggoda keponakan, hayo bisa baca aksara Jawa untuk nama jalankah? Pasti bisa kan ya karena aksara Jawa bersanding dengan huruf latin.

Plang jalan Gadean beraksara Jawa

Beneran dekat pk 08.40 sudah sampai di cagar budaya GPIB Margamulya. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui Per.Men Budpar RI No. PM25/PW.007/MKP/2007. Tampak depan gereja agak sulit difoto karena sedang ada bazaar dan ditutup tenda.

Cagar Budaya GPIB Margamulya Yogyakarta

Diresmikan sebagai tempat ibadah pada Minggu, 11 Oktober 1857 oleh Ds. C.G.S. Begemann. Sepuluh tahun kemudian, 1867 bangunan runtuh oleh gempa, sehingga wujud bangunan kini berbeda dengan asalnya. Bangunan megah pada zamannya dengan corak Indis, keberadaan jendela kecil  lucarne sebagai dekorasi dan penata sirkulasi udara. Jajaran vousoir (unit-unit batu yang disusun dalam bentuk melengkung di atas gerbang, pintu atau jendela) terlihat dari jalan. Membaca deskripsi interior ruang aslinya terjadi asimilasi dengan keberadaan pintu dengan pola kupu tarung.

GPIB Margamulya, Foto: Dok. BPCB DIY. 2007

Pk 08.42. Melongok ke pertigaan jalan persis di sebelah gereja berdiri anggun jam berukuran lumayan besar. Lah ini bukankah ngejaman yang ngetop pada zamannya? Merujuk pada situsbudaya.id, Jam ini dibuat pada tahun 1936. Menjadi andalan petunjuk waktu bagi warga sekitar pun masyarakat yang beraktivitas di wilayah tersebut.

Ngejaman Yogyakarta

Jam berdiameter sekitar 45 cm ini memiliki dudukan setinggi 1,5 m dari muka jalan. Penataan taman seputarnya sering berubah pola sehingga banyak variasi foto yang terlacak. Dulu jam tersebut digerakkan dengan sistem pegas yang harus diputar secara berkala oleh abdi dalem keraton. Kini cukup digerakkan oleh sumberdaya listrik secara otomatis.

Ngejaman Yogyakarta

Yook berbelok ke kanan. Pk 08.44. Selalu bangga dengan bangunan yang berada di balik pagar megah ini. Gedung Agung Yogyakarta. Terlihat beberapa teruna dari pendidikan angkatan yang berfoto di depan pagar bangunan. Loji Kebon, sebutan masyarakat sekitar, karena luasnya taman sekitar loji alias gedung megah.

Gedung Agung alias Loji Kebon, Yogyakarta

Bangunan yang sarat nilai sejarah, menjadi saksi berbagai peristiwa penting di Yogyakarta. Saat pendudukan Jepang menjadi kediaman resmi penguasa Jepang, Koochi Zimmukyoku Tyookan. Pada tahun 1946-1949, saat Yogya menjadi ibukota RI, gedung ini menjadi kediaman resmi Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama. Kini Gedung Agung merupakan salah satu Istana Presiden Republik Indonesia yang berada di luar Kota Jakarta.

Benteng Vredeburg

Di hadapan Gedung Agung berjajar cagar budaya benteng Vredeburg. [malu loh, hingga saat ini saya belum menyempatkan diri melongok kedalamnya, selalu baru melintas dihadapannya]. Monumen serangan umum 1 Maret, saksi perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI.

Kawasan nol km Yogyakarta

Nah berada di nol kilometer, pk 08.58. Kawasan yang tak pernah sepi pengunjung. Kawasan yang ditata ramah kamera dari segala sudut. Penanda arah yang sangat mudah terbaca. Hendak kemana? Kawasan keraton? Kawasan Malioboro? Semua terjangkau mudah dari nol kilometer ini.

Kantor pos bersebelahan dengan BNI

Jajaran gedung kuna bersejarah dengan ornamen indah. Mulai dari gedung BNI. Atau cagar budaya kantor pos dengan penanda warna oranye khas. Bersebelahan dengan gedung Bank Indonesia dengan arsitektura eloknya. Pemandangan pagi hari lumayan beda dengan kunjungan senja 9 tahun lalu yang disajikan pada postingan mecaki dawaning lurung atau menyusuri sepanjang jalan.

Cagar Budaya Kantor Pos Yogyakarta

Cagar Budaya Bank Indonesia, Yogyakarta

Pembeda utamanya adalah tambahan bangunan baru toilet bawah tanah yang ngetop viral di media sosial. Toilet nol kilometer banyak diulas media. Pengumuman selama bulan puasa, toilet dibuka pk 09 pagi. Teet tepat waktu, petugas membukanya terekam di kamera 09.01 toilet sudah dibuka, sekalian menjajallah sebelum pulang ke Salatiga.

Toilet nol kilometer Yogya

Pagi itu entah berapa banyak kelompok masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan ini. Beberapa sedang pengambilan gambar terlihat dari seragam kelompok yang dikenakan. Yook saatnya undur dari kawasan nol kilometer. Foto terakhir yang terambil berpenanda 09.12. Total waktu hanya sekitar 35 menit sejak keluar dari GKI Ngupasan. Beneran hanya melongok ya, melihat tanpa memperhatikan dengan detail. Mutiara budaya berharga mendapat tambahan wawasan cagar budaya GPIB Margamulya dan situs budaya Ngejaman.

Menanti pesanan kendaraan online menuju pool daytrans, tiket pk 10 ke Salatiga sudah di tangan. Melewati Gapura Pangurakan, kawasan Sonobudaya, mengitari pemukiman sekitar keraton dengan jalan dan regol/gapura rumah yang khas. Eh masih sempat sejenak singgah di plengkung Gading yang disajikan di postingan sebelumnya.

Tertarik dengan studi kawasan cagar budaya Yogyakarta? Satu kawasan cagar budaya terdapat beberapa situs budaya yang saling berdekatan dan berhubungan. Mau kawasan cagar budaya Kotagede? Atau kawasan Keraton? Atau kawasan Malioboro? semua menarik. Bangsa yang besar terhubung dengan sejarah budaya leluhurnya.

Meneguhkan bahwa setiap sudut kota Yogya bernilai apik, selalu ngangeni untuk disusuri atau sekedar dilongok sejenak saat waktu jadi pembatas. Selamat menikmati kota Yogyakarta.