Tag

, , ,

Sarapan di Pojokan Sawojajar Bogor

es sekoteng Sawojajar pojok Bogor Permai

Mengantar emaknya ke Bogor, saatnya sarapan. Pilihan awal adalah pasar bersih Sentul City, olala parkiran saja penuh alamat antrian di dalam juga berjubel. Pasar Ah Poong, jangan kak, pernah menjajal koq, kangen yang di kota Bogor saja.

Hayook saja, keluar dari jalan Tol Lingkar Luar Bogor, mengarah ke Warung Jambu, berbelok ke Jl A Yani hingga Air Mancur yang terkenal dengan martabaknya. Menyusuri Jl Jend Sudirman, Mas mbak mbarep, Dian serasa mengantar kenangan mas Ragil akan museum yang pernah dikunjunginya saat sekolah, melongok Sempur di lembah tepian Sungai Ciliwung.

Memasuki Jl Sawojajar, yak persis di pojokan pertigaan Jl Jend Sudirman dengan Jl Sawojajar, bersebelahan atau malah mepet dengan Bogor Permai alias Boper yang merupakan kawasan pertokoan kondang pada zamannya. Kami datang sekitar pk 09an pembeli sudah memenuhi bangku yang tersedia.

Pojok Sawojajar Bogor

Bukan Resto besar, berawal dari kios dengan dagangan utama siomay dan es sekoteng, di sebelahnya kios pempek dan tekwan Palembang. Mereka berkolaborasi. Tak hanya itu berderet gerobag dorong dari sate Pariaman Mak Itam, laksa, sotomi Kang Iwan, mie ayam, bakso Kang Adi, Gado-gado dan pecel Madiun Kang wahyu, hingga jajanan kacang khas Bogor tersedia.

Penjaja kuliner pojok Sawojajar Bogor

Pengunjung bebas memesan dan duduk. Serasa food court dengan pengelolaan sederhana, peminat memesan, duduk, pesanan diantar dan membayar belakangan ke masing-masing penjaja.

Penikmat sarapan

Apa yang kami santap, kangen segarnya sotomie Bogor. Sumber karbo dari potongan kentang/bihun dan mie kuning, ada potongan semacam risoles gulungan dadar tepung yang digoreng renyah, campuran daging kikil, daun bawang, daun sledri, potongan tomat segar, lobak putih dan taburan bawang goreng. Dulu sekali ada emping, namun kini emping disajikan terpisah mengingat tidak semua pembeli memintanya. Aroma khas segar, kuah panas alamak sedapnya.

Sarapan kuliner pojok Sawojajar Bogor

Sajian pempek kapal selam menggoda selera. Penataan dagangan yang belum selesai tak menyurutkan minat memesannya. Rasa gurih legitnya pempek panas berkolaborasi dengan asam segar si cuko plus acar mentimun. Pempek kapal selam berpadu dengan lenjer mampir di meja kami.

Masih ingin menjajal yang lain, sepiring sate Padang dengan saos kental khasnya disantap. Kami yang biasanya tak terlalu suka dengan sate Padangpun beramai-ramai menyerbunya. Masih kepengin suguhan yang lain, apa daya perut tak muat, untuk sediaan lain kali mampir lagi.

Nah penutupnya, pastinya tidak melewatkan es sekoteng, semacam es campur dengan tampilan ceria. Merah menyala butiran mutiara kenyal, hijau menguning lembut si daging buah alpukat nan tebal berpadu dengan putihnya daging degan alias kelapa muda yang empuk tebal. Cita rasanya lama mengendap di kenangan.

Untuk harga, menurut penuturan anak-anak tak terlalu mahal. Rasa menggoda untuk dicoba ulang. Memang Kota Bogor kaya dengan jajanan enak, rasanya setiap sudut memiliki kekhasannya. Semisal toge goreng Ibu Hj Omah di sudut Boper bertolak belakang dengan pojokan Sawojajar, Pak Gebro Ps Anyar maupun Pak Iwon di Pajajaran seberang DAMRI.

Sarapan di Bogor? Jajal di pojokan Sawojajar yook.