Tag

, , , , , , , , ,

MomsonTrip de Grobogan

Trip de Grobogan

Barusan melepas Mas Tengah untuk kembali ke rimba beton, usai berlibur di rumah. Mari bukukan sukacita dolan bareng Mas mBak mBarep saat liburan pertengahan Agustus lalu. Yup momsontrip dolan bareng anak ala kebun.

Kemana nih kita? Sowan Pakde ke Purwadadi yook…. Keluar dari Kota Salatiga, melintas pinggiran Kab Semarang dan memasuki Kab Grobogan.

Persinggahan pertama adalah cagar budaya stasiun Bringin. Stasiun mati di jalur Ambarawa-Tuntang-Kedungjati. Postingan kenangan stasiun Bringin yang berhasil menggoda Mas Ragil mampir saat touring Salatiga-Bojonegoro dan kini gantian mbak mas mbarep. Sekitar 15 menit membiarkan anak-anak menyerap sejarah perkeretaapian Jawa Tengah jalur yang kini menanti reaktivasi.

Stasiun Bringin 085934

Nah ini dia cagar budaya stasiun Kedungjati kembaran stasiun Ambarawa. Rancangan eksterior dengan bata merah maron. Tepat dengan jadwal KA Kalijaga jalur Solo-Semarang pp singgah di stasiun, sejalur dengan tiket 10K. Sepinya penumpang mengindikasikan betapa KAI lebih mengutamakan penumpang daripada perhitungan titik impas. Sekitar 10 menitan kami menikmati stasiun Kedungjati yang pernah saya posting di blog ini.

Stasiun Kedungjati 100042

Meski ini jalur kami sowan Eyang, belum pernah singgah kesini loh Ma, kisah mbak mbarep saat mampir di Api abadi Mrapen di jalur Gubug-Purwodadi. Tepatnya Desa Manggarmas, Kecamatan Godong. Teringat berpuluh tahun silam selaku siswi SMP studytour ke obyek wisata alam ini.

Api abadi Mrapen

Makin tertata kompleks obyek Api Abadi Mrapen yang meliputi api abadi, watu bobot, sendang duda, dilengkapi dengan pendapa yang luas dan bangunan apik untuk pusat wisata belanja.

Mrapen wisata

Api abadi yang merupakan fenomena geologi, gas alam yang bersentuhan dengan udara bebas dan terjadinya nyala api. Mirip dengan api abadi Kayangan api di Bojonegoro, saat momsontrip dengan Mas Ragil.

Pendopo AA Mrapen

Fenomena geologi selalu bersanding dengan kisah lain. Sebutan Kyai dan Nyai Mrapi, tempat penempaan besi aji atau senjata lekat dengan api abadi Mrapen. Hikayat api abadi Mrapen juga bersentuhan dengan Sunan Kalijaga.

Api abadi Mrapen dan Pesta Olah Raga

Sejarah olah raga nasional mencatat peran api abadi Mrapen sebagai sumber api tuk menyalakan obor semangat olah raga. Tercatat tugu api GANEFO I tahun 1963, PON X 1981, PON XIV 1996 menggunakan api dari Mrapen ini. Terakhir terlihat simbol Asian Games 2018, namun tanpa pengambilan api di Mrapen. Juga sebagai sumber api saat perayaan keagamaan semisal waisak.

Watu Bobot-Mrapen

Watu bobot, seberat 20 kg berada di bangunan tertutup di dekat api abadi. Pada saat kami datang terlihat ada yang sedang berada di ruangan tersebut. Berupa batu umpak tiang kerajaan Majapahit yang hendak diusung ke keraton Bintaro Demak.

Sendang Duda

Sedangkan sendang duda berada sekitar 25 m dari api abadi berselang dengan gedung pendapa. Dari dasar sendang atau sumber air terlihat gelembung air keluar, penanda sejumlah gas alam mendesak keluar. Sekitar 20 menitan kami berada di obyek wisata ini. Yook saatnya meneruskan perjalanan.

Jalur Gubug-Purwodadi yang terasa datar. Sepanjang perjalanan lahan menghampar. Musim panenan semangka dan mentimun di musim kemarau. Hamparan kacang hijau berseling kedelai menutupi lahan yang terlihat meretak merekah di musim ketiga kering ini.

Tengah hari kami memasuki kota Purwadadi, saatnya memenuhi panggilan perut. Kesepakatan didapat yook ke Cik Ping menjajal swike khas Purwodadi. Melabel diri pelopor Swike sejak 1901, RM yang berada di jl Kol Sugiono 11 ini menyajikan aneka varian Swike. Saya pribadi suka dengan yang ori katak dengan bumbu kuah tauco jahe, ada juga swike geprek ala kekinian.

Swike Cik Ping Purwodadi

Tujuan utama adalah sowan Pakde. Rumah besar dengan pekarangan luas di tengah kota, tak terasa panas karena terlindung oleh pepohonan. Aneka kisah bergulir, kami menyerap semangat perjuangan dan berkat kesaksian beliau. Lebih dari 2 jam kami jenak menikmati perbincangan. Lewat dari pk 15an kami undur berbekal ngidung Yen Nunggil lan Gusti.

Tahu petis Dewi Purwodadi

Tidak hanya swike loh kekhasan Purwodadi ibu kota Kab Grobogan. Keripik tempe dan sambal pecelnya juga yummy, apalagi yang kacang tanahnya tidak digoreng namun disangrai terasa semakin gurih alami danpa minyak goreng. Saatnya mampir ke Toko Dewi, meminta buntalan tahu petis yang khas legitnya. Apalagi ditambah dengan sirup kawista khas Kab Blora tetangganya.

Grobogan 161033

Semakin sore dan perjalanan pulang lumayan jauh. Rasa kantuk tersamur oleh pantulan matahari sore di atas hamparan ladang. Berseling dengan kerimbunan alas jati. Semakin elok melihat mentari sore jingga merona disela tegakan jati.

Grobogan 163312

Seraya mengingat, mbak mbarep mengarahkan ke areal terbuka usai alas jati, tempat menikmati mentari senja turun ke peraduan. Keluar dari Kab Grobogan, menyisir kembali pinggiran Kab Semarang.

Senja ilalang berlatar G. Ungaran 171512

Aha ini dia lahan datar terbuka dengan latar belakang G. Ungaran di kejauhan, di latar depat nampak bebukitan berbatas jurang. Segera anak-anak melewati pematang sawah usai panen, melewati hamparan jagung, mengintai semburat jingga senja berbingkai tegakan jati. Luar biasa kanvas alam buatanNya.

Senja ilalang 171749

Senjakala saatnya pulang. Terima kasih mbak mas mbarep kita menikmati seharian kebersamaan. Momsontrip de Grobogan penuh cerita. Lah dolan tak harus sangat jauh pun melelahkan…..